Mungkinkah Allah menerima Taubatku?

Pertanyaan:

Sungguh aku telah berkomitmen dengan banyak maksiat dan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan saat ini aku menyadari akan dosa-dosa yang telah aku lakukan.

Akhirnya aku mengatakan: Tunjukkan aku jalan yang lurus, karena sungguh saya mencari pintu taubat dan aku ingin keluar dari permasalahan ini, mungkinkah Allah berkehendak?1

Jawaban:

Wahai sang penanya.

Ketahuilah bahwa rahmat Allah sangatlah luas dan kebaikannya sangatlah besar. Ketahuilah bahwa Allah -Jalla Wa ‘Alaa- Maha-Dermawan dan Maha-Mulia. Allah -سبحانه و تعالى‎- adalah sebaik-baik Pengampun.

Ketahuilah juga bahwasannya memulai kemaksiatan merupakan keburukan dan kerusakan yang sangat besar. Hal itu dapat menjadi sebab dari kemurkaan Allah. Tetapi ketika seorang hamba bertaubat pada Rabb-nya dengan setulus-tulus taubat, Allah akan menerima taubatnya.

Nabi -صلى الله عليه وسلم‎- dahulu sering ditanya tentang seseorang yang telah berbuat seperti ini dan itu. Yaitu berbuat sebagian kecil maupun besar maksiat, juga beragai macam kekufuran kemudian bertaubat. Maka Rasulullah -صلى الله عليه وسلم‎- bersabda:

التوبة تهدم ما كان قبلها والإسلام يهدم ما كان قبله

“Taubat menghapus dosa yang telah lalu dan Islam menghapus dosa yang telah lalu”2

Dan dalam lafadz lain:

الإسلام يَجُب ما كان قبله والتوبة تَجُب ما كان قبلها

“Islam melewati dosa yang telah lalu dan taubat melewati dosa yang telah lalu”3

Taubat menghapuskan dan melenyapkan dosa yang telah lalu. Maka engkau harus menyadari dengan yakin bahwasannya Allah menghapus dosa, perbuatan jahat, bahkan kekufuran dengan taubat yang jujur dan tulus. Hal ini didasari oleh firman Allah :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, mudah-mudahan kalian beruntung.”4

Maka Allah telah mensyaratkan keberhasilan taubat, Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu…”5

Kata ‘Asaa (mungkin) jika datang dari Allah merupakan suatu kepastian. Hal ini berarti seseorang yang bertaubat dengan taubat yang tulus akan diampuni oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga sebagai kemurahan-Nya dan kebaikan-Nya .

Maka bertaubatlah dengan taubat yang tulus wahai saudaraku. Lakukan syarat-syaratnya, teguhlah diatasnya, dan lakukan taubat ini dengan keikhlasan karena Allah semata. Allah akan senang dengan taubat tersebut dan menghapus dosa-dosamu walau dosa-dosa tersebut bagaikan gunung.

Syarat Taubat ada Tiga: Menyesali maksiat dan dosa-dosa yang dahulu dikerjakan dengan setulus-tulus penyesalan, Meninggalkan perbuatan-prebuatan dosa tersebut, Menolak serta meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut di masa yang akan datang untuk mentaati Allah dan memuliakannya.

Perkara-Perkara yang harus ada pada taubat.

  • Pertama: Menyesali masa lalu.
  • Kedua: Keluar dan meninggalkan dosa-dosa mulai dari bagian terkecil dari dosa tersebut hingga bagian besarnya.
  • Ketiga: Tekad yang tulus untuk tidak kembali ke dosa-dosa tersebut lagi bila terkait dengan hak-hak manusia. Baik harta, darah, atau kehormatan yang menimpa mereka.

Dan ini adalah perkara ke empat yang merupakan kesempurnaan taubat. Dosa yang berkaitan dengan hak-hak manusia:

  • Jika berkaitan dengan hukum qisas, maka lakukan hukum tersebut bila memungkinkan atau bila mereka mengizinkan dengan tebusan, maka bisa dengan tebusan.
  • Jika berkaitan dengan harta, maka kembalikan harta tersebut.
  • Jika berkaitan dengan kehormatan mereka yang engkau bicarakan dan ghibah, maka minta maaflah pada mereka.
  • Jika meminta maaf pada mereka memungkinkan untuk terjadinya hal-hal buruk (misal terdapat madharat, bahaya, dibunuh, atau kemungkinan buruk lain, -pent) maka tidak mengapa untuk tidak meminta maaf. Namun berdoalah untuk mereka, mintakan ampun untuk mereka, dan sebutlah kebaikan-kebaikan mereka yang engkau ketahui di tempat-tempat dimana engkau menyebut keburukan mereka. Ini dapat menjadi kafarah untuk masalah ini.

Bersegeralah bertaubat sebelum kematianmu, sebelum tiba waktumu. Bersegeralah dan cepatlah! Kemudian bersabarlah dan ikhlaslah.

Allah -سبحانه و تعالى‎- berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allâh ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui.”6

Pahamilah makna kata “وَلَمْ يُصِرُّواْ”, yaitu mereka tidak berlarut meneruskan maksiat-maksiat, melainkan mereka bertaubat, menyesal, dan meninggalkan maksiat-maksiat tersebut.

“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui.” Dia  melanjutkan setelah potongan ayat tersebut ke:

أُوْلَئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”7

Ini adalah balasan untuk orang-orang yang bertaubat, meninggalkan maksiat, dan tidak meneruskan maksiat, yaitu surga.

Maka engkau Insya Allah termasuk dari orang-orang yang bertaubat dan mendapat surga Insya Allah jika kamu benar-benar tulus dalam bertaubat. Allah waliyyut taufiq.8

Metadata
Artikel pertama ditulis pada tanggal Sabtu, 19 Juli 2014 / 21 Ramadhan 1435 di Kasihan, Bantul
Footnotes
  1. Pada program acara “Nur ‘Ala Ad-Darb”, nomor rekaman 59 []
  2. Dikeluarkan oleh Muslim di Kitab Al-Iman, Bab kedatangan Islam mengapuskan yang telah lalu, nomor 121 dengan lafadz “أما علمت أن الإسلام يهدم ما كان قبله وأن الهجرة تهدم ما كان قبلها” []
  3. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Asy-Syamiyyin, bersisa hadits Amrun Bin Al-‘Aash, nomor 17357 dengan lafadz: “إن الإسلام يجب ما كان قبله وإن الهجرة تجب ما كان قبلها…” []
  4. Surat At-Taubah, Ayat 31 []
  5. Surat At-Tahrim, Ayat 8 []
  6. Surat Ali Imran, Ayat 135 []
  7. Surat Ali Imran, Ayat 136 []
  8. مجموع فتاوى ومقالات متنوعة المجلد الثامن والعشرون, Syarat-syarat taubat, diambil tanggal 19 July 2014, binbaz.org.sa []

You may also like...

Leave a Reply